- Insiden LCC Empat Pilar MPR mendapat kritik dari akademisi UINSI Samarinda.
- Dia menilai pendidikan seharusnya tak membentuk siswa seperti mesin fotokopi.
- Proses belajar perlu memberi ruang bagi pemahaman, nalar kritis siswa.
Sistem evaluasi yang terlalu terpaku pada kunci jawaban, lanjut Ridho, dapat membuat siswa takut menyampaikan argumen.
Padahal, kemampuan menjelaskan alasan dan mempertahankan jawaban merupakan bagian penting dari proses pendidikan.
Menurutnya, relasi kuasa dalam ruang pendidikan juga perlu diperhatikan. Juri, guru, atau pihak yang memiliki otoritas penilaian seharusnya tetap memberi ruang bagi siswa untuk menjelaskan nalar di balik jawabannya.
"Wibawa itu datang dari ilmu, bukan dari jabatan," ujarnya.
Ridho juga menekankan pentingnya sikap terbuka dalam proses penilaian.
Dia menuturkan, juri atau pendidik perlu mampu memvalidasi jawaban secara langsung, terutama ketika jawaban siswa memiliki substansi yang sesuai dengan pertanyaan.
Ia menilai pendidikan yang sehat bukan hanya meminta siswa mengulang teks. Pendidikan harus membantu siswa membangun pemahaman, mengaitkan konsep, dan berani menggunakan nalarnya.
"Yuk pindah dari era hafal teks ke era paham nalar," katanya.
Pandangan Ridho sejalan dengan fokus akademiknya. Dalam disertasinya di Program Pascasarjana UINSI Samarinda, ia mengangkat persoalan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang masih banyak bertumpu pada pendekatan tekstual dan hafalan.
Penelitiannya mengembangkan modul pembelajaran berbasis konteks kehidupan nyata siswa agar pembelajaran tidak berhenti pada kemampuan menghafal materi.
Ia menilai siswa bukan wadah kosong yang hanya diisi informasi, melainkan subjek yang memiliki kemampuan berpikir.
Ridho menyampaikan, transformasi pendidikan perlu memprioritaskan nalar kritis sebagai bagian dari pembentukan karakter.
Kompetisi akademik juga seharusnya menjadi ruang yang mendorong pemahaman, bukan sekadar kepatuhan pada redaksi jawaban.
Berita Terkait
Terpopuler
- Survei: 55 Persen Pemilih Prabowo Tidak Akan Memilihnya Kembali pada Pilpres 2029
- Selundupkan 1.689 Burung Liar ke Jakarta, Bus Sinar Jaya Dicegat di Pelabuhan Bakauheni
- KPU Bisa Tindaklanjuti Putusan MK dengan Menyatakan Syarat Pendidikan Gibran di Pilpres 2024 Tak Sah
- Rekonsiliasi Politik, Anies Baswedan Jadi Menteri Prabowo?
- Pelembap Viva Hijau vs Kuning, Apa Bedanya? Ini Manfaat Keduanya untuk Wajah
Pilihan
-
Inilah 5 Menteri yang Kinerjanya Paling Buruk Menurut Survei CELIOS
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
-
Polisi Dalami Dugaan Pemalsuan Suket Pendidikan Gibran
-
PDI Perjuangan: Gibran Lebih Baik Mundur dari Wapres
Terkini
-
DPD RI Kaltim Serap Aspirasi Mahasiswa untuk Revisi UU Pemilu 2029
-
Lewat #YokKitaGAS, BRI Ajak Pengunjung MotoGP Mandalika Peduli Lingkungan
-
BRI Kembali Jadi Merek Paling Bernilai di Indonesia, Bukti Konsistensi Jaga Kepercayaan Nasabah
-
Bukan Tenggelam, Pria Tewas di Sungai Mahakam Ternyata Korban Pengeroyokan
-
Warga Kaltim Diminta Waspada Sakit ISPA dan Demam Berdarah