- Insiden LCC Empat Pilar MPR mendapat kritik dari akademisi UINSI Samarinda.
- Dia menilai pendidikan seharusnya tak membentuk siswa seperti mesin fotokopi.
- Proses belajar perlu memberi ruang bagi pemahaman, nalar kritis siswa.
SuaraKaltim.id - Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI belakangan viral di media sosial lantaran adanya anulir jawaban dari dewan juri.
Insiden tersebut memantik kritik dari akademisi pendidikan UIN Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, Dr Muhammad Ridho Muttaqin.
Dosen UINSI itu menilai pendidikan seharusnya tidak membentuk siswa seperti mesin fotokopi.
"Stop bikin siswa jadi mesin fotokopi," ujar Ridho mengutip Kaltimtoday--jaringan Suara.com.
Menurutnya, kasus LCC Empat Pilar dinilai menjadi refleksi atas sistem evaluasi yang masih terlalu menekankan hafalan, artikulasi, dan kesesuaian dengan kunci jawaban.
Proses belajar perlu memberi ruang bagi pemahaman, nalar kritis, dan kemampuan siswa dalam menjelaskan substansi jawaban.
Insiden ini ramai dibicarakan setelah peserta lomba memprotes keputusan juri karena merasa jawabannya memiliki substansi yang sama dengan regu lain.
Dalam video yang beredar, peserta menyampaikan jawaban mengenai pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan diresmikan oleh Presiden.
Namun, jawaban itu dinilai salah oleh juri sehingga peserta mendapat pengurangan nilai. Peserta kemudian mengajukan keberatan karena merasa jawaban serupa dari regu lain justru dinyatakan benar oleh dewan juri.
Dalam tanggapan juri yang terekam dalam video, persoalan tersebut dikaitkan dengan kejelasan artikulasi jawaban peserta.
Juri menyebut artikulasi penting dalam perlombaan dan keputusan penilaian tetap berada sepenuhnya pada otoritas dewan juri.
Ridho menilai kasus itu tidak cukup dibaca sebagai persoalan teknis lomba semata.
Ia menjelaskan, insiden tersebut menunjukkan masih kuatnya cara pandang pendidikan yang terlalu kaku dalam menilai jawaban siswa.
Ridho menyebut evaluasi pendidikan seharusnya tidak hanya mengukur kesesuaian kata demi kata dengan kunci jawaban. Substansi pemahaman siswa juga perlu mendapat tempat yang adil dalam proses penilaian.
"Belajar itu harusnya meaningful, bukan cuma rote learning atau hafal mati demi validasi dewan juri," katanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- Sunscreen Apa yang Bikin Glowing? Ini 7 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
Pilihan
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
-
Prabowo: Hukum Tak Boleh Dipakai untuk Balas Dendam Politik
Terkini
-
Berawal dari Modal Rp2,7 M, Kasus Irma Suryani vs Istri Ketua DPRD Kaltim Berakhir SP3
-
Gubernur Rudy Mas'ud Sebut ASN Luar Daerah Bisa Isi Jabatan Strategis
-
Ribuan Warga Tertipu Ajang Lari Samarinda Half Marathon
-
BRI Dorong PMI Naik Kelas, Fokus Kembangkan Usaha Produktif di Daerah
-
Perkuat Intermediasi Perbankan, BRI Optimalkan Dana SAL bagi Pertumbuhan Ekonomi Nasional