Siti juga mengungkapkan faktor lainnya yakni perbedaan tinggi hulu dan hilir yang sangat besar. Sehingga suplai air dari hulu dengan energi dan volume yang besar menyebabkan waktu konsentrasi air berlangsung cepat dan menggenangi dataran banjir.
"Ini sekaligus meluruskan pemberitaan beberapa informasi yang keliru dan menyebar massif di tengah situasi bencana. Terlebih lagi metode analisis kawasan hutan yang digunakan tidak sesuai standar dan tidak dengan kalibrasi menurut metode resmi yang dipakai," cuitnya.
Analisis Data Lapan
Sebelumnya, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) mengemukakan analisis mengenai penyebab banjir di Kalsel. Melalui siaran persnya, Lapan menyebut susutnya kawasan hutan telah meningkatkan risiko banjir di Kalsel.
Baca Juga:Banjir Kalsel Akibat Deforestasi, Menteri LHK Jelaskan Anomali Cuaca
Selain itu, Lapan mengatakan dari hasil analisisnya diketahui adanya kontribusi penyusutan hutan dalam kurun 10 tahun terakhir terhadap peningkatan risiko banjir di wilayah Kalsel.
![Sejumlah Prajurit Marinir TNI AL Pasmar 1 Jakarta menggunakan perahu karet untuk mengevakuasi warga korban banjir di Desa Pekauman Ulu, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Sabtu (16/1/2021). [Antara/Bayu Pratama]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/01/18/96733-banjir-kalsel.jpg)
Data tutupan lahan menunjukkan, dari tahun 2010 sampai 2020 terjadi penyusutan luas hutan primer seluas 13 ribu hektare, hutan sekunder seluas 116 ribu hektare, sawah 146 ribu hektare, dan semak belukar 47 ribu hektare.
Kemudian area perkebunan di wilayah itu menurut data perubahan tutupan lahan luasnya bertambah hingga 219.000 hektare.
"Perubahan penutup lahan dalam 10 tahun ini dapat memberikan gambaran kemungkinan terjadinya banjir di DAS Barito, sehingga dapat digunakan sebagai salah satu masukan untuk mendukung upaya mitigasi bencana banjir di kemudian hari," kata Kepala Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh Lapan M Rokhis Khomaruddin.
Selain itu, hasil analisis curah hujan berdasarkan data satelit Himawari-8 menunjukkan bahwa liputan awan penghasil hujan terjadi sejak 12 hingga 13 Januari 2021 dan masih berlangsung hingga 15 Januari 2021 di wilayah Kalimantan Selatan.
Baca Juga:Tudingan Banjir Kalsel Akibat Deforestasi, Menteri LHK Sebutkan Ini
"Curah hujan ini menjadi salah satu penyebab banjir yang melanda Provinsi Kalimantan Selatan pada tanggal 13 Januari 2021," kata Rokhis.