Di tahun ini, gajinya mengalami kenaikan. Yakni mencapai Rp 1,5 juta dengan insentif Rp 1,2 juta. Walaupun sudah meningkat, tetap saja, pencairan insentif selalu terlambat.
Dengan gaji segitu, Taufiq mengaku masih belum cukup untuk tinggal di pedalaman Kukar. Musababnya, selain membiayai kebutuhan pokok, biaya transportasi di sana juga cukup tinggi. Lantaran, Desa Muara Enggelam berada di atas Danau Melintang. Sehingga transportasi mesti menggunakan kapal ketinting mesin ces.
"Tidak adanya akses darat membuat harga sayur dan sembako jadi mahal," bebernya.
Itulah alasan kenapa hingga kini ia tetap menjadi nelayan. Walaupun begitu, Taufiq mengaku tetap bersyukur atas upah yang ia terima sebagai guru honor. Sebab, ia sudah berniat ikut andil dalam dunia pendidikan.
Baca Juga:Guru Besar FKUI Desak Pemerintah Tegas Tangani Covid-19 Untuk Tekan Angka Kematian
Bangga jadi guru honor dengan misi memerangi kebodohan.
Dirinya bahkan bangga bisa menjadi guru honorer di pedalaman Kukar. Baginya ini merupakan perjuangan untuk mencerdaskan bangsa. Terutama untuk warga Desa Muara Enggelam.
Tekad Taufiq sangat jelas. Ia ingin memerangi kebodohan dan ketertinggalan pengetahuan warga pedalaman di era teknologi seperti sekarang ini.
"Anak-anak di sini biasanya punya dua kemungkinan saja. Yang berprestasi pasti jadi rebutan sekolah lain. Yang kurang berprestasi, atau orangtuanya tidak punya biaya melanjutkan pendidikan, maka anak tersebut setelah tamat SMP akan ikut orangtua jadi nelayan," urai Taufiq.
Taufiq menyebut, jenjang Pendidikan di Desa Muara Enggelam hanya sampai SMP. Murid yang mau melanjutkan ke jenjang lebih tinggi harus mencari di luar desa. Biasanya para murid diarahkan ke Kecamatan Muara Muntai, karena cukup dekat dari Desa Muara Enggelam daripada harus ke Kecamatan Muara Wis.
Baca Juga:Parah! Guru Les Ngamuk dengan Guru Sekolah, Ngasih Tugas Lewat Youtube