Abdul Muthalib dkk pun diamankan oleh tentara Belanda. Meski gagal, kabar itu juga sampai terdengar ke penduduk di Balikpapan.
"Walau sempat digagalkan, tapi di kampung-kampung itu sudah kibarkan bendera," tambahnya.
Setahun kemudian, Mbah Koesman masih berjuang untuk memastikan bahwa pasukan Belanda bisa angkat kaki dari Balikpapan. Beberapa pimpinan pejuang rakyat Balikpapan ketika itu ditangkap.
Salah satunya punya hubungan darah dengannya. Mbah Koesman yang berusia 15 tahun diperintahkan untuk pergi ke Sanga-Sanga mengantarkan surat kepada pejuang.
Baca Juga:Penyebab Lidah Tidak Ada Rasa, Apa Itu Ageusia?
"Jadi waktu itu saat Belanda dengan Australia menduduki Balikpapan, mereka sering buat layar tancap di Muara Rapak. Di situ saya pulang pergi malam hari. Karena dianggap berani, makanya paman saya itu memerintahkan saya sebagai pengantar kabar atau surat," katanya.
Bukan tanpa alasan, Koesman dianggap pemberani oleh pimpinan pejuang saat itu Kasmani yang merupakan kerabat keluarga. Ditemani 2 orang, mereka pergi menggunakan perahu dari Klandasan menuju Sungai Meriam Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara (Kukar) lalu menempuh waktu 3 hari 3 malam.
Ketika itu Sanga-Sanga justru masih bergejolak hingga tahun 1947. Padahal Republik Indonesia sudah menyatakan kemerdekaan 2 tahun sebelumnya.
"Awal Januari 1947 antar surat isinya terkait bergabungnya pasukan pejuang Balikpapan ke Sanga-Sanga untuk memukul mundur penjajah," terangnya.
Hingga pada 27 Januari 1947, berhasil memukul mundur Belanda dari Sanga-Sanga. Para pejuang ketika itu berhasil merebut gudang senjata dan amunisi perang lainnya.
Baca Juga:Dibantu Thanos, Pejuang Kemerdekaan Indonesia di Cimahi Serang Markas Belanda dan Tentara Sekutu
Pejuang yang dinyatakan gugur yakni 73 pejuang. Sedangkan yang dinyatakan hilang sebanyak 63 orang. Mbah Koesman salah satunya dalam daftar pejuang hilang tersebut.