Oleh karena itu, bangunan berbentuk panggung tersebut biasa disebut sebagai rumah panjang atau ruma panjae dalam bahasa setempat.
Rumah itu memiliki ukuran 214 meter x 6 meter dengan tinggi lantai dari permukaan tanah sekitar 2 meter.
Rumah betang memiliki 46 bilik atau pintu yang dihuni oleh satu sampai empat keluarga. Ada pula 18 ruamah atau rumah pisah di sekitar betang, mirip rumah pada umumnya.
Betang memiliki bangsal bernama ruai dalam yang biasa dipakai sebagai tempat bersosialisasi anggota keluarga rumah betang.
Baca Juga:Mengenal Lebih Dekat Suku Kutai, Penduduk Asli Kalimantan Timur yang Kaya Budaya dan Bahasa
Dapat pula digunakan untuk melaksanakan upacara adat seperti perkawinan dan kematian.
Pemimpin betang adalah seorang pria paruh baya bernama Bandi Anak Ragai yang dikenal sebagai Apai Janggut karena janggut putihnya yang lebat.
Menurut Apai Janggut, seluruh penghuni rumah betang sejak puluhan tahun hidup untuk menjaga kelestarian hutan Sungai Utik.
Mereka memegang teguh prinsip adat yang diwariskan turun-temurun yang berbunyi babas adalah apai kami, tanah adalah inai kami, dan ae adalah darah kami.
Artinya, hutan melambangkan posisi seorang bapak, tanah diartikan sebagai ibu, dan air bagai darah yang mengalir di sekujur tubuh.
Baca Juga:Polres Kukar Tertibkan Judi Berkedok Adat, Temukan Dadu, Tongkok, dan Sabung Ayam
Kontributor : Maliana