Tradisi Mencari Jodoh Suku Dayak Bahau, Antara Pilihan Bebas dan Peran Keluarga

Dalam masyarakat Suku Dayak Bahau, pencarian atau pemilihan jodoh dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung.

Denada S Putri
Rabu, 08 Mei 2024 | 15:40 WIB
Tradisi Mencari Jodoh Suku Dayak Bahau, Antara Pilihan Bebas dan Peran Keluarga
Ilustrasi muda-mudi Suku Dayak Bahau. [Ist]

SuaraKaltim.id - Jodoh merupakan seseorang yang akan menjadi suami atau istri atau pasangan hidup yang akan menemani seseorang hingga akhir hayatnya.

Dalam masyarakat Suku Dayak Bahau, pencarian atau pemilihan jodoh dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung.

Maksud dari pencarian jodoh secara langsung adalah apabila pihak lelaki maupun pihak wanita bebas dapat memilih jodohnya.

Sementara maksud dari cara tidak langsung adalah pemilihan jodoh dapat dilakukan oleh pihak keluarga atau boleh kerabat terdekat.

Baca Juga:Keunikan Nyobeng Dayak Bidayuh, Ritual Memandikan Tengkorak Manusia Hasil Mengayau

Meski keduanya sama-sama baik, dari pihak orang tua dan kaum kerabat dari seseorang itu tetap memainkan peranan yang penting.

Umumnya, pada saat ini setiap pemuda-pemudi bebas untuk memilih calon teman hidupnya.

Jodoh untuk yang dicarikan oleh orang tua juga dapat terjadi, tetapi jarang terjadi sekali.
 
Para muda-mudi suku Dayak Bahau memiliki waktu-waktu atau kesempatan untuk saling berkenalan dengan sendirinya.

Waktu tersebut adalah pada saat pesta adat menanam padi yang oleh suku bangsa Bahau dilaksanakan dengan sangat meriah.

Pesta adat memotong padi biasanya diadakan dengan sangat meriah karena pada kesempatan itu diadakan acara-acara kesenian.

Baca Juga:Apa Itu Tiwah? Upacara Pencucian Arwah Paling Sakral dan Terbesar di Kalimantan

Kesempatan lainnya untuk berkenalan yaitu pada waktu gotong-royong kampung atau desa. Biasanya gotong-royong dilakukan dalam kelompok-kelompok kerja, yang anggotanya terdiri di antara 3 sampai 20 orang.

Mereka saling bergantian bekerja di ladang atau kebun dari anggota masing-masing kelompok.

Pada saat-saat itu para muda-mudi dapat bekerja bersama dan sambil bekerja mereka saling berbalas-balasan pantun.

Perkenalan dan pergaulan antara muda-mudi itu terjadi antara lain dalam kegiatan:

a. Pelaa'rau (berharian)

Pelaa'rau adalah bekerja bersama bergantian di ladang dari anggota kelompok dalam kurun waktu seharian.

Contohnya jika hari ini di ladang si A, besok di ladang si B, dan seterusnya sampai semua anggota kelompok mendapat gilirannya.

Jadi, bergantian secara bergotong-royong mengerjakan sesuatu dalam suatu kelompok yang anggotanya sudah tertentu jumlahnya.

b. Ngayang (bertemu malam)

Setelah perkenalan mulai akrab, maka si pemuda bersama kawannya bertamu ke rumah si pemudi pada malam hari.

c. Parun

Parun adalah mengadakan wisata (piknik) sambil masak-masak, atau menyiapkan alat-alat penangkap ikan bersama-sama.

d. Pesta-pesta adat

Pada pesta adat para muda-mudi mempunyai banyak kesempatan untuk bergaul. Jadi penyelenggaraan dari pesta-pesta itu umumnya diserahkan kepada mereka.

Di antaranya, seperti memasak nasi, memasak lauk-pauk, mengadakan kesenian pada malam harinya dan sebagainya.

Tetapi dalam segala pergaulan, mereka sangat hati-hati, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Andaikan terjadi, maka akan ada sangsi adat yang sangat berat.

Kontributor : Maliana

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini