Scroll untuk membaca artikel
Denada S Putri
Kamis, 28 Maret 2024 | 02:00 WIB
Ilustrasi salah satu ritual di Suku Dayak Wehea. [Ist]

Dalam mimpinya, Dohton Tenyiey meminta kepada Diang Yung untuk mengorbankan putri tunggalnya, Putri Long Diang Yung demi menyelamatkan warganya dari bencana kekeringan dan kelaparan.

Jika tidak dilakukan, maka warga akan meninggal teru menerus hingga habis. Setelah terjaga dari tidurnya, hati sang hepuy Diang Yung berkecamuk memikirkan wangsit yang disampaikan oleh Dohton Tenyiey.

Akhirnya, diadakan musyawarah dengan tetua adat dan pemuka masyarakat, maka diambillah suatu mufakat bahwa masyarakat banyak harus diselamatkan dan Putri Long Diang Yung yang dikorbankan.

Selesai mengucapkan sumpah saat Hepuy Diang Yung mengorbankan sang Putri Long Diang Yung tiba-tiba hari menjadi gelap seketika, hujan pun turun sangat deras.

Baca Juga: Mitos Dayak Punan soal Hewan Pembawa Pesan Utusan 'Tuhan'

Kemudian, sang putri yang telah dikorbankan berubah menjadi serumpun padi yang tumbuh meninggi serta mengeluarkan bulir-bulir yang sudah menguning.

Padi kemudian dituai dan dibagikan kepada warga sebagai benih atau bibit untuk ditaman. Warga yang sudah mendapatkan bagiannya segera pergi untuk menanam.

Hasil dari benih yang ditanam itulah yang dituai, kemudian dikonsumsi hingga akhirnya mereka terlepas dari bencana kekeringan dan kelaparan, hidup makmur dan sejahtera.

Itulah alasan mendasar orang-orang Wehea hingga saat ini masih konsisten melaksanakan ritual Lom Plai.

Kontributor: Maliana

Baca Juga: Makna Unik Motif Ukiran di Rumah Adat Lamin, Bentuk Penghormatan pada Leluhur

Load More