SuaraKaltim.id - Jodoh merupakan seseorang yang akan menjadi suami atau istri atau pasangan hidup yang akan menemani seseorang hingga akhir hayatnya.
Dalam masyarakat Suku Dayak Bahau, pencarian atau pemilihan jodoh dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung.
Maksud dari pencarian jodoh secara langsung adalah apabila pihak lelaki maupun pihak wanita bebas dapat memilih jodohnya.
Sementara maksud dari cara tidak langsung adalah pemilihan jodoh dapat dilakukan oleh pihak keluarga atau boleh kerabat terdekat.
Baca Juga: Keunikan Nyobeng Dayak Bidayuh, Ritual Memandikan Tengkorak Manusia Hasil Mengayau
Meski keduanya sama-sama baik, dari pihak orang tua dan kaum kerabat dari seseorang itu tetap memainkan peranan yang penting.
Umumnya, pada saat ini setiap pemuda-pemudi bebas untuk memilih calon teman hidupnya.
Jodoh untuk yang dicarikan oleh orang tua juga dapat terjadi, tetapi jarang terjadi sekali.
Para muda-mudi suku Dayak Bahau memiliki waktu-waktu atau kesempatan untuk saling berkenalan dengan sendirinya.
Waktu tersebut adalah pada saat pesta adat menanam padi yang oleh suku bangsa Bahau dilaksanakan dengan sangat meriah.
Pesta adat memotong padi biasanya diadakan dengan sangat meriah karena pada kesempatan itu diadakan acara-acara kesenian.
Baca Juga: Apa Itu Tiwah? Upacara Pencucian Arwah Paling Sakral dan Terbesar di Kalimantan
Kesempatan lainnya untuk berkenalan yaitu pada waktu gotong-royong kampung atau desa. Biasanya gotong-royong dilakukan dalam kelompok-kelompok kerja, yang anggotanya terdiri di antara 3 sampai 20 orang.
Mereka saling bergantian bekerja di ladang atau kebun dari anggota masing-masing kelompok.
Pada saat-saat itu para muda-mudi dapat bekerja bersama dan sambil bekerja mereka saling berbalas-balasan pantun.
Perkenalan dan pergaulan antara muda-mudi itu terjadi antara lain dalam kegiatan:
a. Pelaa'rau (berharian)
Pelaa'rau adalah bekerja bersama bergantian di ladang dari anggota kelompok dalam kurun waktu seharian.
Contohnya jika hari ini di ladang si A, besok di ladang si B, dan seterusnya sampai semua anggota kelompok mendapat gilirannya.
Jadi, bergantian secara bergotong-royong mengerjakan sesuatu dalam suatu kelompok yang anggotanya sudah tertentu jumlahnya.
b. Ngayang (bertemu malam)
Setelah perkenalan mulai akrab, maka si pemuda bersama kawannya bertamu ke rumah si pemudi pada malam hari.
c. Parun
Parun adalah mengadakan wisata (piknik) sambil masak-masak, atau menyiapkan alat-alat penangkap ikan bersama-sama.
d. Pesta-pesta adat
Pada pesta adat para muda-mudi mempunyai banyak kesempatan untuk bergaul. Jadi penyelenggaraan dari pesta-pesta itu umumnya diserahkan kepada mereka.
Di antaranya, seperti memasak nasi, memasak lauk-pauk, mengadakan kesenian pada malam harinya dan sebagainya.
Tetapi dalam segala pergaulan, mereka sangat hati-hati, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Andaikan terjadi, maka akan ada sangsi adat yang sangat berat.
Kontributor : Maliana
Berita Terkait
-
Benarkah Muhammadiyah Pelopor Modernisasi Halal Bihalal di Indonesia? Ini Faktanya
-
Review Novel 'Entrok': Perjalanan Perempuan dalam Ketidakadilan Sosial
-
Manfaat Mudik Lebaran: Lebih dari Tradisi, Ini Cara Ampuh Tingkatkan Kualitas Hidup
-
Sejarah dan Makna Ketupat: Tradisi Lebaran yang Kaya Filosofi
-
Lebaran dan Media Sosial, Medium Silaturahmi di Era Digital
Terpopuler
- Kode Redeem FF 2 April 2025: SG2 Gurun Pasir Menantimu, Jangan Sampai Kehabisan
- Ruben Onsu Pamer Lebaran Bareng Keluarga Baru usai Mualaf, Siapa Mereka?
- Aib Sepak Bola China: Pemerintah Intervensi hingga Korupsi, Timnas Indonesia Bisa Menang
- Rizky Ridho Pilih 4 Klub Liga Eropa, Mana yang Cocok?
- Suzuki Smash 2025, Legenda Bangkit, Desain Makin Apik
Pilihan
-
Misi Mathew Baker di Piala Asia U-17 2025: Demi Negara Ibu Tercinta
-
Dear Timnas Indonesia U-17! Awas Korsel Punya Dendam 23 Tahun
-
Piala Asia U-17: Timnas Indonesia U-17 Dilumat Korsel Tanpa Ampun
-
Media Korsel: Hai Timnas Indonesia U-17, Kami Pernah Bantai Kalian 9-0
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
Terkini
-
APBD Terpangkas Rp 300 Miliar, Pemkab PPU Matangkan Program Kartu Cerdas
-
Libur Lebaran di Beras Basah: 3.000 Pelancong, Mayoritas Wisatawan Lokal
-
Harga Sewa Kapal ke Pulau Beras Basah: Mulai Rp 550 Ribu, Ini Daftarnya!
-
Dua Penghargaan Internasional dari The Asset Triple A Awards 2025 Sukses Diboyong BRI
-
Dari Nganjuk ke Sepaku, Wisatawan Rela Tempuh Perjalanan Jauh Demi IKN