Scroll untuk membaca artikel
Bella
Kamis, 30 Mei 2024 | 11:55 WIB
Potret salah satu masyarakat Dayak Lebo. (Chris Djokan/Yayasan Konservasi Alam Nusantara)

Dari tempat persembunyian itu, mereka kemudian membuat beberapa bangunan rumah sederhana sebagai tempat tinggal sementara.

Beberapa dari mereka kala itu masih takut menjadi target peperangan antarsuku sehingga masih tinggal secara nomaden atau berpindah-pindah.

Setelah mereka merasa situasi peperangan antarsuku itu mereda dan tidak ada lagi permusuhan antarsuku, mereka akhirnya mulai berani menetap membuat rumah.

Masyarakat Dayak Lebo akhirnya membentuk kampung mereka sendiri dengan membuat hunian rumah, mulai bertani dengan menanam jagung, singkong, dan sayuran lain di tengah hutan.

Baca Juga: Menelusuri Jejak Austronesia pada Kepercayaan Kaharingan di Suku Dayak

Bahkan, mereka mulai membentuk aturan adat dengan menetapkan beberapa batasan seperti batasan wilayah hutan yang mereka tempati.

Sebagai suku yang dikenal sebagai "Penjaga Hutan", mereka juga memberlakukan aturan untuk menjaga agar hutan di karst Sangkulirang-Mangkalihat yang ada di belakang kampung mereka tetap terjaga dengan baik.

Mengutip dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara, saat ini Suku Dayak Lebo sangat bergantung pada kelestarian hutan Merabu, yang menjadi rumah tinggal mereka.

Masyarakat Dayak Lebo pun melakukan upaya-upaya konservasi dengan menggunakan sistem tersendiri yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Salah satunya membuat aturan dan berburu dan memancing. Kegiatan ini hanya boleh dilakukan jika hasilnya digunakan untuk kehidupan sehari-hari dan tidak diperjualbelikan untuk menghindari eksploitasi kekayaan hutan.

Baca Juga: Menyingkap Asal Usul Nenek Moyang Suku Dayak, Benarkah dari China?

Sumber:

Load More