SuaraKaltim.id - Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda berencana akan melakukan pengadaan transportasi massal Bius Rapid Transit (BRT) di wilayahnya. Perencanaan itu sudah ada sejak 2023 lalu.
Dinas Perhubungan (Dishub) Samarinda sendiri ingin mengadakan transportasi BRT seperti yang diterapkan di Jakarta, Banjarmasin dan Yogyakarta.
Kabarnya, bus-bus itu akan beroperasi di 7 jurusan. Beberapa halte di Samarinda akan menjadi penghubung untuk pemberhentian.
Tak seperti Trans Jakarta, bus-bus nantinya berjalan tanpa jalur pribadi. Melainkan menggunakan jalan umum sama dengan kendaraan lain.
Ukuran bus katanya 3/4 alias sama dengan medium bus. Angkot juga akan menjadi penunjang di Samarinda.
Dishub menuturkan, rencana itu akan direalisasikan tahun ini. Sayangnya, karena satu dan lain hal, perencanaan diundur jadi tahun depan
Tak berhenti di situ, Dishub Samarinda juga belajar ke beberapa daerah untuk bisa menerapkan BRT. Keputusan baru dibuat, menggunakan opsi beli layanan.
Akan ada pihak ketiga yang menjadi operator. Sementara Dishub bekerja sebagai regulator yang mengawasi. Ini juga akan menghemat biaya, tak perlu beli dan merawat bus sendiri.
Namun, kekurangannya, anggarannya fantastis. Ada 3 opsi anggaran. Opsi penerapan pertama, 2 trayek dengan anggaran Rp 25 sampai Rp 30 miliar. Opsi kedua 4 trayek, dengan anggaran Rp 50 miliar.
Baca Juga: Aroma Busuk Sampah di Pattimura Bontang Buat Pengguna Jalan Terancam, DLH Beri Efek Jera
Lalu 7 trayek penuh dengan anggaran Rp 110 miliar. Sementara Wali Kota Samarinda Andi Harun menolak dengan sistem beli layanan. Alasannya tidak ekonomis.
Lebih baik kalau punya bus sendiri dan dikelola sendiri. Meski repot namun biaya yang dikeluarkan tak banyak.
Tanggapan DPRD Samarinda
Anggota Komisi III DPRD Kota Samarinda Anhar merasa tidak ada masalah jika pemerintah ingin mengadakan transportasi massal berbasis BRT. Termasuk sistem mana yang mau dipakai.
Menurut Anhar baik itu menggunakan sistem beli layanan maupun memiliki dan mengelola bus sendiri, keduanya tetap memiliki konsekuensi atau plus dan minus sendiri. Sehingga harus dengan kajian yang jelas.
“Kalau saya sih, konsepnya mau gimanapun terserah yang mana yang bagus,” jelasnya, dihubungi melalui panggilan telepon, Selasa (18/06/2024).
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- Mulai Besok Kendaraan Nunggak Pajak Dilarang Isi BBM Bersubsidi
- 3 Rekomendasi Air Cooler 50 Watt yang Dingin Maksimal dan Suaranya Senyap
- 3 Sepatu Running Brodo Terlaris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Durian Musang King dan Black Thorn Jadi Komoditas Baru Andalan Sulsel
Pilihan
-
Resmi! Muktamar NU ke-35 akan Digelar di Ponpes Bahrul Ulum Jombang
-
Babak Belur Emiten Kaesang: Hanya Mampu Bayar Buruh Harian dan Operasikan Satu Pabrik
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
Terkini
-
Suara.com Audiensi dengan KPID Kaltim, Bahas Masa Depan Industri Media
-
BRI Tekan Cost of Fund ke 2,33 Persen, Profitabilitas Makin Kokoh Berkat Penguatan CASA
-
Kantor Dinas Pendidikan Kutai Kartanegara Digeledah Terkait Korupsi Insentif Guru
-
BRI Bersinergi Dengan Danantara Pacu Ekonomi Kerakyatan, Laba Naik dan Dividen Tertinggi
-
Jaga Integritas Perusahaan, BRI Tingkatkan Deteksi Fraud dan Pengawasan Internal