Ia melanjutkan, memasuki awal abad ke-21, Sepaku mulai menunjukkan perkembangan yang lebih signifikan. Pembangunan jalan yang lebih baik dan koneksi infrastruktur dengan wilayah-wilayah lain di Kaltim mulai dilakukan.
Di periode ini, industri pertambangan dan perkebunan sawit juga mulai berkembang, meskipun tidak sebesar di wilayah lain di Kaltim. Wilayah Sepaku mulai mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah daerah dan nasional, terutama karena potensi sumber daya alamnya.
"Namun, Sepaku masih tetap dikenal sebagai daerah yang relatif terpencil dengan perkembangan ekonomi yang terbatas."
Suku Balik, Warga Asli Sepaku dari Kemerdekaan sampai 1990-an
Untuk diketahui, Suku Balik adalah salah satu kelompok etnis asli yang mendiami wilayah Sepaku. Suku ini memiliki sejarah panjang yang terjalin erat dengan perkembangan wilayah tersebut, dari masa kemerdekaan hingga saat ini.
Sarip menuturkan, pada masa Kemerdekaan Indonesia di 1945, masyarakat Suku Balik di Sepaku hidup dalam kondisi yang sangat sederhana, seperti banyak suku asli lainnya di Kalimantan.
"Mereka sebagian besar bergantung pada sumber daya alam, dengan aktivitas utama berupa bercocok tanam, berburu, dan mengumpulkan hasil hutan. Kehidupan mereka sangat dipengaruhi oleh tradisi dan adat istiadat, serta interaksi yang minimal dengan dunia luar karena akses yang terbatas ke wilayah mereka," paparnya.
Sarip menegaskan, di periode 1970-an, pendidikan dan layanan kesehatan sangat terbatas bagi Suku Balik serta kebanyakan orang di suku tersebut tidak memiliki akses ke fasilitas-fasilitas dasar itu. Masyarakat hidup dalam komunitas-komunitas kecil yang terpencar di sekitar wilayah Sepaku, dengan pola kehidupan yang relatif terisolasi.
Perubahan Sosial dan Ekonomi Masyarakat Suku Balik
Baca Juga: 70% Warga Kaltim Hadiri Upacara HUT RI di IKN, Sisanya Undangan Khusus
Pada periode 1990-an, dengan meningkatnya upaya pemerintah untuk mengembangkan Kaltim, masyarakat Suku Balik mulai mengalami perubahan dalam kehidupan sosial dan ekonomi mereka. Program-program pemerintah seperti transmigrasi dan pengembangan infrastruktur mulai memasuki wilayah Sepaku, yang secara perlahan mengubah pola hidup tradisional mereka.
Sarip melanjutkan, meskipun masih bergantung pada pertanian subsisten dan pemanfaatan hutan, masyarakat Sepaku mulai mengenal bentuk-bentuk ekonomi baru, seperti perdagangan hasil bumi.
Kontak dengan suku-suku lain dan pendatang juga semakin meningkat, terutama dengan adanya transmigran dari Pulau Jawa dan daerah lain yang mulai menetap di sekitar Sepaku .
"Namun, perubahan ini juga membawa tantangan, seperti persaingan untuk lahan dan sumber daya alam yang menjadi lebih intensif. Suku Balik mulai menghadapi tekanan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan ini, yang kadang kala mengancam cara hidup tradisional mereka," tuturnya.
Memasuki abad ke-21, masyarakat Suku Balik di Sepaku semakin terintegrasi dengan ekonomi modern. Banyak dari mereka yang beralih dari pertanian subsisten ke pekerjaan di sektor formal, seperti perkebunan, pertambangan, dan pekerjaan lain yang tersedia di wilayah tersebut.
Beberapa mulai bekerja sebagai buruh atau karyawan di perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kaltim. Namun, proses modernisasi ini juga menimbulkan dampak pada budaya dan identitas mereka.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Haunted Garden Hadir di IKN, Ada Dinner Halloween hingga Atraksi Fire Juggling
-
37 Orang Diamankan Terkait Pencurian Kabel Telkom di Samarinda, 4 Ditetapkan Tersangka
-
Karhutla 20 Hektare di Samarinda, Api Tinggal 20 Meter dari Asrama Yonzipur
-
Karhutla Kaltim Tembus 9.500 Hektare dalam 3 Bulan, Kabut Asap Masih Mengancam
-
Karhutla Kalimantan: Polri Terjunkan 200 Brimob, 10 Anggota Bareskrim ke Kaltim-Kalteng