alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Revisi Perwali Samarinda Tentang Izin Membuka Tanah Negara Dalam Pembahasan

Sapri Maulana Kamis, 08 April 2021 | 07:30 WIB

Revisi Perwali Samarinda Tentang Izin Membuka Tanah Negara Dalam Pembahasan
Ilustrasi. Sejumlah massa melakukan aksi di depan gedung Kementerian Agraria dan Tata Ruang, di Jakarta, Senin (26/3).

Hal yang menjadi problem di masyarakat ialah tentang tanah negara yang dikuasai masyarakat atau badan hukum perorangan tidak boleh dijualbelikan, dan lainnya.

SuaraKaltim.id - Kepala Bagian Hukum Pemkot Samarinda Eko Suprayetno memaparkan Perwali 61/2019 tentang izin membuka tanah negara (IMTN) pembahasan revisi sedang dilakukan.

"(revisi)Lebih ke redaksional," ungkapnya, Rabu (7/4/20210) saat disambangi Presisi.co, jaringan Suara.com.

Jika revisi sudah rampung, perwali akan dilaporkan ke lembaga legislatif, DPRD Samarinda.

"Banyak sekali masukan camat yang harus diakomodasi Dinas Pertanahan. Kemudian dituangkan dalam draft Perwali tentang IMTN," terang Eko.

Baca Juga: Perwali 13/2021 Samarinda, Langgar Prokes Denda Rp 500 Ribu

Usulan revisi diusulkan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) se-Samarinda yang melapor ke DPRD Samarinda. LPM menganggap aturan pertanahan terlalu rumit.

Laporan ini dilontarkan ke DPRD Samarinda pada November 2020. Hingga pada 9 September 2020, surat laporan itu diterima Eko. Kemudian bermuara pada revisi Perwali 61/2019 tentang IMTN hingga Rabu 7 April 2021.

"Salah satunya menyampaikan agar IMTN direvisi," ungkapnya.

Hal yang menjadi problem di masyarakat ialah tentang tanah negara yang dikuasai masyarakat atau badan hukum perorangan tidak boleh dijualbelikan, tidak boleh dipindahtangankan, tidak boleh diagunkan.

"Semisal, saya punya tanah. Suratnya penguasaan lahan. Saya mau jual. Saya ke lurah, ke camat dilayani. Kemudian saya ajukan ke bank diterima. Sebenarnya ini tidak boleh. Tapi karena dari dulu seperti itu biasa, hal ini semakin menjadi pembenaran," jelas Eko.

Baca Juga: Dikala Geliat Pasar Tanah Abang Masih Lesu Jelang Ramadan

Eko menyebut, yang dipahami masyarakat dengan terbitnya perwali ini kian membuat susah. Ia tak berharap surat penguasaan hingga diwariskan. Namun lebih baik jika disertifikatkan.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait