alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Sedimentasi DAS Mahakam Tinggi, Perparah Banjir Samarinda: Dari Pusat Juga Menyatakan Itu

Denada S Putri Kamis, 07 Oktober 2021 | 20:39 WIB

Sedimentasi DAS Mahakam Tinggi, Perparah Banjir Samarinda: Dari Pusat Juga Menyatakan Itu
Tangkapan layar video. [CCTV Online/samarindakota.go.id]

Banjir Samarinda bukan hanya disebabkan intensitas hujan yang tinggi.

SuaraKaltim.id - Bencana banjir yang terus melanda sebagian besar wilayah Samarinda bukan hanya disebabkan intensitas hujan yang tinggi. Tapi juga disebabkan degradasi lahan besar-besaran, akibat aktivitas pertambangan yang menyebabkan sedimentasi tinggi.

Wali Kota Samarinda Andi Harun mengungkapkan, Daerah Aliran Sungai (DAS) Mahakam salah satu yang mengalami masalah sedimentasi cukup parah dan serius. Sehingga masalah banjir sulit untuk dikendalikan di Kota Tepian.

“Dari pusat juga menyatakan itu, ada problem DAS Mahakam, padahal itu sangat strategis,” katanya, dikutip dari kaltimtoday.co--Jaringan Suara.com, Kamis (7/10/2021).

Kepala Seksi (Kasi) Pelaksanaan Balai Wilayah Sungai (BWS) Wilayah IV Kalimantan, Arman Effendi,  membenarkan DAS Mahakam saat ini dalam kondisi kritis.

Baca Juga: Tanggap Darurat Bencana Banjir Luwu, WALHI Sulsel: Prioritaskan Kelompok Rentan

“Daya tangkapan DAS Mahakam semakin berkurang. Kemampuan untuk menampung air permukaan sudah tidak cukup. Debitnya terlalu besar, diperparah dengan sedimentasi,” ucapnya. 

Mengacu pada hasil penelitian yang dilakukan, laju sedimentasi dari DAS Mahakam bersama beberapa sungai saat ini dapat dikatakan sangat tinggi. Namun, ada sejumlah pembagian beberapa wewenang untuk penanganan DAS di Samarinda. Ia menyebutkan, pihaknya lebih memilih untuk melakukan penurapan yang cakupannya sudah skala nasional.

Ada banyak faktor yang menyebabkan sedimentasi DAS Mahakam terjadi. Selain masalah tambang, salah satunya, sedimentasi terjadi akibat ulah manusia sendiri.

“Faktor pertama adalah manusia. Kami tidak menyalahkan pihak ya, itu personal, tapi beberapa pihak. Saya tak adil juga kalau ini biangnya secara penuh karena tambang. Nggak adil juga,” lanjutnya.

Ia mengungkapkan, aktivitas pembukaan lahan dilakukan mulai perusahaan industri ekstraktif. Kemudian bukaan lahan oleh pendiri perumahan swasta, dan lahan pribadi. Aktivitas itu dibarengi dengan mengupas daerah resapan dan tangkapan air jadi lahan terbuka.

Baca Juga: Banjir di Paser, Warga Takut Ancaman Hewan Liar, Bantuan Evakuasi dan Sembako Belum Merata

Walhasil, laju air permukaan membawa lapisan tanah teratas ke tampungan sungai. Akhirnya dangkal. Air permukaan itu adalah air yang terkumpul di atas tanah atau mata air, lahan basah, sungai, danau, dan ada hubungannya dengan air bawah tanah.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait