Menurut Suwarso, tantangan dalam penanganan kebakaran ini termasuk akses ke sumber air yang sulit dan lokasi yang terletak di perbukitan, membuat armada pemadam kesulitan untuk masuk. Namun, berkat kerja sama yang solid antara BPBD, Disdamkar, dan relawan, kebakaran berhasil diatasi.
"Kami saling mendukung dalam setiap penanganan. Misalnya, dalam kebakaran pemukiman, anggota dari Dinas Pemadam Kebakaran akan berada di garis depan, sementara tim kami akan menyuplai air," jelas Suwarso.
Kebakaran juga dipengaruhi oleh kondisi cuaca ekstrem, dengan suhu yang mencapai 37 derajat Celsius dan angin kencang yang berpotensi menyebabkan pohon tumbang dan angin puting beliung.
Suwarso menambahkan, perilaku membakar sampah yang merambah ke lahan dan pembukaan lahan pertanian dengan cara dibakar menjadi salah satu penyebab kebakaran yang sulit dikendalikan.
Baca Juga:Ramadan Ke-3, Ini Jadwal Imsak untuk 3 Kota Besar di Kaltim
Suwarso menekankan, pentingnya kesadaran masyarakat dalam mencegah kebakaran dan mengikuti protokol yang ada.
"Kami berharap tidak ada lagi kejadian serupa di masa depan, dan kami mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan," tutupnya.