Pembukaan Lom Plai ditandai dengan Ngesea Egung atau pemukulan gong oleh keturunan raja.
Gong dipukul dini hari atau setelah semua makhluk hidup terbangun dari tidur, dan dilakukan di rumah adat atau lamin.
Suara gong mengisyaratkan bahwa kerjasama atau gotong royong menghias kampung dan pelaksanaan ritual sakral bisa dimulai.
Kemudian, selesai suara gong maka diiringi bunyi tabuhan Tewung, yang merupakan prosesi yang bermakna mengabarkan kepada para Dewa Penjaga dan pelindung kampung serta para roh leluhur.
Baca Juga:Mitos Dayak Punan soal Hewan Pembawa Pesan Utusan 'Tuhan'
Biasanya Lom Plai ini digelar setiap tahunnya setelah panen padi oleh masyarakat yang mendiami daerah di Sungai Wehea dan Telen.
Ritual ini memiliki keunikan dengan kearifan lokal yang sangat tinggi, terutama dalam memperlakukan tumbuhan karena bagi suku Dayak Wehea, tanaman padi sejajar dengan manusia.
Kontributor: Maliana