Denada S Putri
Senin, 07 Juli 2025 | 16:10 WIB
Ilustrasi Tenaga Surya. [Ist]
Baca 10 detik

Sebanyak 72 desa di empat kabupaten telah mendapatkan PLTS, sementara biogas rumah tangga terus dikembangkan dengan 575 unit terpasang sejak 2012 untuk mendorong kemandirian energi berbasis potensi lokal.

Selain tenaga surya sebagai prioritas utama, Pemprov Kaltim juga mengevaluasi potensi mikrohidro di Kutai Timur, Berau, dan Mahulu untuk memperluas sumber energi ramah lingkungan.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan di Samarinda, Balikpapan, dan Kukar dengan menu bergizi sesuai standar, menyasar siswa PAUD–SMP serta ibu hamil dan menyusui, dengan rencana perluasan melalui pembentukan dapur MBG di tiap kecamatan.

SuaraKaltim.id - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) terus menunjukkan komitmennya dalam memperluas akses energi bersih bagi seluruh warganya, termasuk mereka yang tinggal di daerah terpencil.

Melalui pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan biogas skala rumah tangga, upaya transisi energi hijau di Kaltim kini benar-benar menyentuh akar rumput.

Salah satu langkah nyata tersebut adalah penyediaan PLTS yang telah menjangkau 72 desa terpencil yang tersebar di empat kabupaten.

Teknologi ini dianggap paling relevan untuk kondisi geografis daerah-daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).

Hal itu disampaikan Elly Luchritia Nova, Kepala Bidang Energi Baru Terbarukan (EBT) dan Konservasi Energi Dinas ESDM Kaltim, saat di Samarinda, Minggu, 6 Juli 2025.

“Untuk saat ini, yang paling bisa kami kembangkan adalah tenaga surya,” ujar Elly, disadur dari ANTARA, Senin, 7 Juli 2025.

Elly menjelaskan bahwa pemanfaatan tenaga surya menjadi prioritas karena kemudahan implementasinya di daerah terpencil, dibandingkan dengan sumber energi lain seperti mikrohidro yang membutuhkan infrastruktur tambahan dan kondisi alam tertentu.

Meski begitu, Dinas ESDM tetap membuka peluang untuk mengeksplorasi potensi air sebagai sumber energi terbarukan.

Beberapa lokasi di Kutai Timur (Kutim), Berau, dan Mahakam Ulu (Mahulu) sedang dikaji lebih lanjut, setelah survei awal menunjukkan adanya potensi dari aliran deras atau air terjun.

Baca Juga: Satu Klik untuk Semua! Kaltim Hadirkan Platform SAKTI Multi-Layanan

Selain PLTS, strategi transisi energi Kaltim juga menyasar rumah tangga melalui program biogas.

Program ini memanfaatkan limbah kotoran sapi untuk menggantikan LPG.

Dari 2012 hingga 2024, tercatat 575 unit instalasi biogas telah dibangun di 10 kabupaten/kota.

Menurut Elly, teknologi biogas terbukti efisien dan ramah lingkungan.

“Biogas menjadi alternatif pengganti LPG yang lebih efisien dan ramah lingkungan, dengan api yang menyala stabil,” ujarnya.

Inisiatif ini menjadi bagian dari visi besar Pemprov Kaltim untuk tidak hanya menyalakan lampu di rumah warga terpencil, tapi juga mendorong kemandirian energi lokal berbasis potensi daerah.

Dengan pendekatan berbasis komunitas dan teknologi sederhana, energi bersih bukan lagi wacana, tapi kenyataan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Pemprov Kaltim bertekad melanjutkan pengembangan energi baru dan terbarukan ini, baik di kawasan pedesaan maupun perkotaan, sebagai bagian dari lompatan menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Program MBG Sasar Anak dan Ibu, Tiga Daerah Jadi Pilot Project

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) terus menunjukkan langkah konkret dalam meningkatkan ketahanan gizi masyarakat.

Salah satu program unggulan yang saat ini tengah digalakkan adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menyasar kelompok rentan seperti pelajar usia dini hingga remaja, serta ibu hamil dan menyusui.

Saat ini, implementasi MBG difokuskan di tiga daerah: Samarinda, Balikpapan, dan Kutai Kartanegara (Kukar).

Hal itu disampaikan Kartika Linda Pratiwi mewakili Badan Gizi Nasional (BGN) Kaltim saat ditemui dalam pameran Expo Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK se-Indonesia di Convention Hall Samarinda, Senin, 7 Juli 2025.

“Program Makan Bergizi Gratis saat ini berjalan di Samarinda, Balikpapan, dan Kutai Kartanegara,” kata Kartika, disadur dari ANTARA, disadur di hari yang sama.

Menurut Kartika, salah satu fokus dalam pameran tersebut adalah memperkenalkan langsung contoh menu MBG kepada pengunjung.

Menu yang disediakan telah dirancang agar seimbang dan sesuai standar kebutuhan gizi harian.

“Untuk siswa SD kelas 4-6, SMP, serta ibu hamil dan menyusui, anggaran per porsi adalah Rp 10.000. Sementara itu, untuk siswa TK, PAUD, dan SD kelas 1-3 anggarannya Rp8.000 karena gramasinya lebih rendah,” jelas Kartika.

Menu yang disediakan setiap hari tidak monoton. Ia menekankan bahwa seluruh makanan telah ditakar secara tepat oleh ahli gizi, baik dari sisi kandungan maupun variasi.

Bahkan, karbohidrat tidak selalu berasal dari nasi, tapi bisa juga berupa kentang atau sumber lain yang setara secara nutrisi.

Kartika menyebutkan bahwa porsi MBG sudah mencakup seluruh unsur gizi yang dibutuhkan, mulai dari karbohidrat, protein hewani dan nabati, hingga sayur dan buah.

Program ini tidak hanya memberi makan, tetapi sekaligus menjadi bentuk edukasi gizi praktis yang mudah diterima oleh anak-anak dan keluarga.

Antusiasme masyarakat pun cukup tinggi terhadap program ini. Namun, karena keterbatasan infrastruktur, pelaksanaannya masih bersifat bertahap. Untuk sementara, MBG diprioritaskan bagi sekolah-sekolah yang lokasinya berdekatan dengan dapur MBG aktif.

“Kami berharap ke depan, program ini dapat menjangkau lebih banyak daerah dan memberikan manfaat gizi yang optimal bagi seluruh masyarakat Kalimantan Timur,” tutur Kartika.

Upaya memperluas cakupan dengan membentuk dapur MBG di setiap kecamatan tengah disiapkan.

Strategi ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem layanan gizi yang lebih merata dan berkelanjutan, dimulai dari komunitas terkecil—sekolah dan keluarga. (NAD/ADV/Diskominfo)

Load More