"Saya tidak tau, kalau naik ojek lewat sana (jalur alternatif) kan jauh, mahal lagi. Jadi saya dua kali naik ojek," kata pria yang tinggal daerah Mangkupalas ini.
Kondisi Jembatan Berbahaya
Keputusan penutupan Jembatan Mahkota II dilakukan karena abrasi yang terjadi tepat di bawah jembatan. Akibatnya infrastruktur pylon jembatan alami pergeseran. 7mm ke arah kanan sisi Palaran dan terjadi penurunan sekitar 33mm.
"Rawan sekali kalau sudah ada pergeseran, amanya Jembatan kalau sudah bergeser, berhitung Mili aja, itu sudah sangat rawan sekali kecelakaan,"jelas Ketua Forum Jasa Konstruksi Kaltim Samsul Tribuana melalui telepon seluler.
Baca Juga:Sudah Bayar Rp 5,1 Juta, Pelanggan Laporkan Dirut PDAM Samarinda ke Polisi
Dia apresiasi langkah cepat Pemkot Samarinda yang langsung mengambil tindakan penutupan.
"Itu bisa dibuka kembali operasi setelah dilakukan penelitian dan survey bersama. Keputusannya nanti apakah memungkinkan operasi kembali atau tidak, kalau tidak, harus benar-benar didesain ulang untuk dilakukan pembenahan kembali, secara enginering," paparnya.
Sementara mengenai abrasi, Samsul menjelaskan dalam proses pembangunan itu mestinya yang diperhatikan adalah perangkap sehingga tidak terjadi abrasi.
Menurut dia, mestinya dari dulu yang dipertimbangkan adalah dibuatkan turap sebagai penahan abrasi.
"Itu yang kadang kadang tidak terpikirkan. Karena abrasi itu terjadi tepat abutmenya (tiang pancang) jembatan," jelasnya.
Baca Juga:Tidak Ada Zona Merah di Samarinda, Ini Syarat Menggelar Salat Idulfitri
Kontributor : Jifran