Hal itu dilakukan untuk memblok peredaran ulat bulu ke tengah taman. Cara bekerja cairan hama itu adalah daun yang terkena semprotannya akan beracun bagi ulat.
"Jadi ulat yang tidak kena semprotan ketika makan daun yang telah disemprot akan keracunan dan mati. Jadi kami semprot semua tanaman di tepi taman sepanjang 500 meter. Jadi itu cara memblok perluasan ulat bulunya," katanya.
Menurutnya, penyebab gatal adalah kulit dan bulu sisa metamorfosis koloni ulat hama tersebut yang terbawa oleh angin.
"Kalau terkena ulat bulu bisa ditangani menggunakan bedak herocyn (bedak anti gatal) atau minyak panas. Misal minyak tawon atau salep yang dibeli di apotik," jelasnya.
Baca Juga:Bandara APT Pranoto Siapkan Sarana dan Prasarana Antisipasi Lonjakan Penumpang Nataru
Sementara itu, Kepala BPBD Samarinda Suwarso yang turut hadir dalam kegiatan ini menjelaskan mereka melakukan kolaborasi bersama Animal Rescue untuk melakukan penanganan ulat bulu.
Mereka merespon keluhan masyarakat terkait serangan ulat bulu yang banyak bermunculan di media sosial. Pihaknya memastikan cairan yang digunakan beracun bagi hama dan ulat bulu namun tidak merusak tananam.
"Kami bersama DLH akan terus melakukan pemantauan. Ini harus segera diatasi agar tidak semakin menyebar," kata Suwarso.
Saat ini untuk keamanan warga masyarakat Kota Samarinda, Taman Bebaya masih ditutup untuk umum hingga waktu yang tidak ditentukan.
Baca Juga:Pemkot Samarinda Siapkan 866 Lapak untuk Relokasi Pedagang Pasar Pagi