Dalam istilah local, mereka menganggap bahwa padi harus ditimang sebagaimana layaknya orang tua kepada bayi.
Secara turun temurun, mereka sudah menganggap bahwa padi juga memiliki nyawa selayaknya manusia.
Wujud dari penghormatan kepada padi ini dapat disaksikan dengan acara nimang padi dalam upacara adat Naik Dango.
Dalam upacara itu, dilakukan sebuah upacara khusus yang bernama niduratn padi dengan maksud agar padi yang dianggap sebagai orang tua.
Baca Juga:BMKG Ingatkan Pengusaha Tambak di Pesisir Kalimantan Timur Waspada Pasang Laut Tinggi
Padi sendiri diibaratkan sebagai orang tua yang dapat berisrirahat dengan tenang dan tidur dengan nyenyak di dalam dango.
Padi yang disimpan didalam dango itu tidak boleh diambil secara sembarangan sebelum diadakan upacara adat.
Oleh karena itu untuk memenuhi keperluan makan sehari-hari sebelum tiba saatnya upacara adat naik dango, tidak semua padi harus disimpan didalam dango. Harus ada sedikit yang dipersiapkan untuk dimakan yang disebut padi soangan.
Padi soangan itu merupakan persiapan padi untuk dimakan sehari-hari sebelum sampai waktunya naik dango.
Sebagai upacara adat yang dilaksanakan setiap tahun setelah usai panen, upacara adat naik dango biasanya disertai pula dengan upacara-upacara adat lainnya yang dapat disimpulkan sebagai cara syukuran kepada Jubata.
Kontributor: Maliana
Baca Juga:Sejarah dan Asal Usul Nama Kerajaan Kutai Kertanegara Ing Martadipura