Tradisi Tarsul ini berkaitan dengan agama Islam karena memiliki syair dan bait-bait sastra yang berisi tentang nasihat kehidupan dalam beragama.
Selain itu, Tarsul juga biasanya berisi syair yang erat kaitannya dengan kehidupan sosial budaya dalam masyarakat Kutai.
Sebelumnya, Tarsul ini dikembangkan dan semakin tumbuh secara cepat karena masyarakat Kutai di pesisir Kalimantan Timur, terutama mereka yang beragama Islam.
Di masyarakat Kutai, Tarsul masih terus dilestarikan dan biasanya dipentaskan oleh para seniman saat pembukaan Erau, upacara adat paling meriah di Kalimantan Timur.
Baca Juga:Menyibak Misteri Gua Gunung Kombeng: Kisah Penyelamatan Arca Hindu dan Situs Kerajaan Kutai
Kemudian, selain digelar saat pertunjukkan Erau, beberapa masyarakat yang masih kental adatnya juga menggunakan Tarsul ketika mengantar calon mempelai pria ke rumah calon mempelai wanita.
Jadi, Tarsul akan dilakukan oleh pihak mempelai pria sebelum memasuki rumah, dan ada pihak mempelai wanita yang mewakili untuk betarsul terlebih dahulu.
Tradisi Tarsul saat mengantar pengantin di Kalimantan Timur ini mirip dengan tradisi suku Betawi di Jakarta yang kerap berbalas pantun saat hendak memasuki kediaman mempelai wanita.
Perbedaannya antara Tarsul dengan balas-berbalas pantun ala Suku Betawi adalah terletak di nyanyian dan syair yang dibuat lebih islami.
Kontributor : Maliana
Baca Juga:Kisah Gunung Kombeng, Misteri Penyelamatan Patung Hindu di Balik Agresi Kutai Kertanegara